Film Horor Karya Sineas Muda Banyuwangi Diputar di Ruang Sinema Disbudpar
oleh Risfi Asfiana / Diterbitkan 14 November 2025, 20:17 WIB
Banyuwangi, KresekNews - Ruang Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi menjadi lokasi pemutaran film horor karya sineas muda lokal berjudul Darma Malam Kelahiranku, Jumat (14/11/2025). Film tersebut merupakan produksi komunitas kreatif KRESEK PICTURES yang berbasis di Kecamatan Srono. Pemutaran film ini menjadi bagian dari upaya memberikan ruang apresiasi dan evaluasi bagi karya perfilman lokal Banyuwangi. Acara dipandu oleh Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Banyuwangi, Ainur Rofiq, yang sekaligus bertindak sebagai moderator diskusi.
Film Darma Malam Kelahiranku disutradarai oleh Muftiurrahman dan mengangkat cerita yang bersumber dari kepercayaan budaya masyarakat setempat, khususnya larangan bepergian pada hari dan weton kelahiran seseorang yang diyakini dapat membawa musibah. Unsur budaya tersebut menjadi fondasi utama pengembangan cerita horor dalam film ini. Sebagian besar proses pengambilan gambar dilakukan di kawasan hutan pinus Songgon, yang dikenal luas dengan julukan “Swiss van Banyuwangi”. Film ini disajikan dalam dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, guna memperkuat nuansa lokal serta kedekatan cerita dengan budaya masyarakat Banyuwangi.
Cerita berfokus pada perjalanan empat remaja, Darma dan tiga sahabatnya yang melakukan pendakian gunung. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang kuncen yang memperingatkan agar segera kembali. Namun peringatan tersebut diabaikan. Keputusan itu justru membawa mereka pada rangkaian peristiwa mistis yang berujung pada kematian satu per satu, termasuk Darma, yang kejadiannya bertepatan dengan hari dan weton kelahirannya.
Pemutaran film ini turut dihadiri sejumlah sineas senior Banyuwangi, di antaranya Bambang Harjito, serta komunitas dan pemerhati film dari berbagai wilayah. Dalam sesi diskusi, para peserta menyampaikan sejumlah catatan dan masukan konstruktif. Beberapa poin evaluasi yang disoroti antara lain intonasi dialog yang masih terkesan kaku, tata rias dan kostum yang perlu ditingkatkan, serta pemilihan pemeran yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan karakter cerita.
Bambang Harjito juga menekankan pentingnya ketepatan penggunaan istilah dalam penulisan film. Menurutnya, label “Based on True Story” sebaiknya hanya digunakan untuk cerita yang benar-benar bersumber dari peristiwa faktual. Mengingat film ini berangkat dari kepercayaan dan tradisi masyarakat, ia menyarankan penggunaan istilah “Based on Culture”. Meski mendapat sejumlah catatan, film ini tetap memperoleh apresiasi positif. Andre Waluyo dari Sanggar Merah Putih 45 menilai Darma Malam Kelahiranku sebagai karya yang menjanjikan, terutama dari sisi sinematografi dan pengelolaan adegan, mengingat film tersebut diproduksi oleh sineas muda.
Pemutaran film ini sekaligus menjadi bukti tumbuhnya kreativitas generasi muda Banyuwangi serta peran KRESEK PICTURES dalam mengembangkan perfilman lokal berbasis budaya.